Cahaya Basirah dan Cahaya Sirr (Al-Hikam Pasal 7)

Sidoarjo, 21 Februari 2018
Imam Mahfudzi

“JANGAN MERAGUKAN JANJI ALLAH”

لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ

 

“Janganlah karena tiadanya pemenuhan atas apa-apa yang dijanjikan, padahal telah jatuh waktunya, membuatmu ragu terhadap janji-Nya; agar yang demikian itu tidak menyebabkan bashirah-mu buram dan cahaya sirr-mu padam!”

Pada pasal sebelumnya, telah jelas bahwa kehendak Allah SWT bebas dari intervensi makhluk-makhluk-Nya…sebenarnya manusia juga diberikan kebebasan dalam mengelola keinginannya,tp yg terjadi tetaplah keinginan Allah…dan karenanya tidak setiap keinginan manusia yg disampaikan kepada Allah selalu dipenuhi-Nya…
Nah dalam beberapa hal,Allah juga memberikan janji-janji baik (disamping janji ancaman)-Nya… meskipun demikian datangnya janji Allah ini tetap tidak terikat datangnya, baik pada waktu maupun tempat tertentu, termasuk oleh keinginan manusia…
Dalam keadaan semacam ini, seringkali manusia menjadi ragu akan datangnya janji Allah…nah keraguan semacam ini dapat menutup bashirah, atau mata hati, juga mengurangi keyakinan dan merusak tauhid…akibat selanjutnya manusia kemudian lebih yakin dengan solusi-solusi jangka pendek, menjadi pragmatis, meskipun harus melanggar aturan Allah… berbuat dzulm atau dzalim, seperti mencuri, korupsi,zina, menyakiti orang lain, atau yang semisalnya, pada hakikatnya disebabkan rendahnya keyakinan kepada Allah, minimal karena keraguan akan janji Allah…
Mungkin juga banyak yang meyakini bahwa kedekatan dengan Allah, dengan amal ibadah yang intens… menjadi syarat terpenuhi nya janji Allah dalam waktu dekat… keyakinan semacam ini sepertinya harus dirubah…kehendak Allah sama sekali tidak terikat oleh apapun… bukankah Dia sedang berfirman:
{أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ} [البقرة : 214]
Dalam ayat ini ditegaskan, jangankan kita manusia biasa, Rasulullah dan sahabat-sahabatnya yang utama pun tetap diminta sabar menanti janji Allah, dalam konteks ayat ini pertolongan Nya…sebab janji-Nya adalah dekat, pertolongan Nya tidak lama lagi…yang membuat lama karena seringkali kita menghitungnya menggunakan sudut pandang manusia, perhitungan manusia…dalam contoh lain manusia sering melupakan urusan akhirat dan hari kiamat, karena melihatnya sebagai obyek yang jauh. Padahal Nabi Saw pernah menggambar bahwa dekatnya masa beliau dengan kiamat sedekat jari telunjuk dan jari tengah…lebih ekstrim lagi,menurut Allah sesungguhnya kiamat bagi-Nya sudah terjadi ( QS. al-Nahl 1)

Baca Juga :  Kenang Ayah, Saat Sampaikan Pidato Mahasiswa Terbaik
Baca Juga :  Kenang Ayah, Saat Sampaikan Pidato Mahasiswa Terbaik

Kesimpulannya,kalau kita merasa Allah sering menunda janji Nya kepada kita, maka itulah sudut pandang kita, sudut pandang yg dapat melahirkan keraguan dalam diri akan kekuasaan mutlak Allah SWT… sudut pandang yang justru akan menutup mata hati

Na’udzu billahi min dzalik
Wallahu a’lam bis shawab

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22FansLike
109FollowersFollow
SubscribersSubscribe
- Advertisement -

Latest Articles