Figur yang lahir dari praktik politik dinasti tidak banyak mendapat simpati dari publik. Bahkan, mayoritas publik tidak percaya lantaran alasan penyalahgunaan wewenang.

Direktur Pusat Studi Anti korupsi dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Muhammadiyah Surabaya Satria Unggul menuturkan, respon masyarakat cenderung negatif terhadap figur yang muncul atas praktik politik dinasti. Hasil riset yang dilakukannya bersama PW Pemuda Muhammadiyah Jatim menunjukkan, masyoritas responden tidak percaya dengan calon kepala daerah yang memiliki hubungan kekeluargaan. Persentasenya mencapai 57,2 persen dan yang percaya sebesar 32 persen, serta responden yang tidak peduli sebanyak 10,8 persen.
“Alasan tidak percaya paling tinggi karena politik dinasti menghambat kaderisasi kepemimpinan dan potensi penyalahgunaan wewenang,” tutur satria. Sementara alahasan responden yang percaya didasarkan pada alasan memiliki trah/ keturunan sebagai pemimpin dan karakter kepala daerah sebelumnya yang tegas serta berintegritas. “Kedua alasan tersebut merupakan alasan paling dominan di antara beberapa alasan lain yang juga disebutkan responden,” tutur Satria.


Satria menambahkan dalam riset tersebut dilakukan dengan melibatkan 1066 responden dengan tingkat toleransi 3 persen dan tingkat kesalahan 3persen. Teknik pengambilan sample menggunakan multi-stage random sampling. “Kita melakukan penelitian pada 19 kabupaten/kota di Jatim yang melaksanakan Pilkada 2020,” tutur Satria.
Riset tersebut dilakukan pada periode 1-14 Nopember 2019. Selain random sampling, riset ini juga diperkuat dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap tokoh kunci di 19 kabupaten/kota serta diperkuat dengan studi pustaka untuk menguraikan persoalan yang diangkat.han

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of