Fasco.id – Fakta mengejutkan terjadi pada jadwal adzan dzuhur yang dinilai terlalu cepat dari waktu semestinya. Saat masjid-masjid mulai memgumandangkan adzan, ternyata matahari belum sampai tergelincir ke arah barat.

Hal itu terjadi khususnya untuk jadwal salat dzuhur wilayah Surabaya – Sidoarjo dan sekitarnya. Jika dibandingkan antara waktu salat dzuhur pukul 11.18 WIB (Berdasar jadwal resmi Kementerian Agama tanggal 19 November 2019) hingga matahari benar-benar tergelincir ke arah barat masih ada selisih waktu sekitar 20 menit.

Wakil Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo Ibnu Rusydi mengakui adanya keganjilan terhadap jadwal salat dzuhur tersebut. Pihaknya pun mengakui telah membuktikan bahwa ada selisih waktu yang cukup lama antara adzan yang berkumandang dengan tergelincirnya matahari ke arah barat. Pembuktian itu dilakukannya secara sederhana menggunakan patokan bayangan matahari. Ketika adzan berkumandang, seharusnya bayang-bayang terlihat condong ke timur karena matahari sudah mulai tergelincir ke barat. Namun faktanya, saat adzan berkumandang bayangan masih berada di barat.

“Awalnya penasaran kenapa beberapa hari terakhir salat dzuhur jauh lebih awal. Saya pun mencoba menggunakan metode lama dengan memgukur bayangan matahari. Ternyata saat adzan berkumandang, bayangan matahari itu masih menjorok ke barat,” ungkap Ibnu Rusydi, Rabu (20/11).

Baca Juga :  Sepanjang PCM Terbaik se-Indonesia

Terhadap fenomena itu, Ibnu Rusydi meyakini ada kesalahan yang harus diluruskan dalam penentuan waktu salat. Sebab, ketika belum memasuki waktu dzuhur dan salat dilaksanakan, akan mengurangi kuakitas ibadah. “Bahkan kita boleh bertanya, apakah salat kita masih sah ketika salat sebelum waktunya. Karena pada saat itu jaraknya sangat dekat dengan larangan waktu salat. Yaitu ketika matahari persis di atas kepala,” ungkap Ibnu Rusydi.

Terhadap fenomena itu, Ibnu Rusydi berharap seluruh umat muslim yang hendak melaksanakan salat dzuhur memastikan kembali waktunya. Caranya bisa dilakukan dengan mudah, salah satunya menggunakan patokan bayangan terhadap benda yang berdiri tegak lurus. “Tidak ada salahnya, para muadzin, takmir masjid bahkan jamaah salat dzuhur ikut memperhatikan secara cermat tentang waktu masuknya salat yang sesuai,” kata Ibnu Rusydi.

Baca Juga :  Klinik Siti Aisyah Krian, Siapkan Pengobatan Gratis

Ibnu Rusydi mengakui, fenomena ini sebelumnya juga menjadi informasi yang berkembang tanpa kejelasan sumbernya. Karena itu, secara sederhana dia mengambil langkah untuk mengecek sendiri waktu salat. Namun, langkah ini masih harus kembali diuji secara ilmiah jika akan dijadikan patokan untuk perubahan waktu salat. “Kami perlu menguji kembali secara ilmiah dan lembaga yang memiliki otoritas dalam menentukan waktu salat. Jadi, kami akan melakukan itu,” tandasnya.

Sementara itu, Dewan Pembina Lembaga Kajian dan Pengembangan Da’i Pemuda Muhammadiyah (LKPDPM) Sidoarjo Imam Mahfudzi mengakui perlunya validasi ulang tentang waktu salat. Hanya pertanyaannya, siapakah yang memiliki otoritas melakukannya? Metode apakah yang lebih akurat digunakan?.

“Beberapa tahun lalu juga ramai tentang waktu shubuh di Indonesia yang dinilai lebih awal, sehingga kita temukan jama’ah salafi biasanya memulai waktu shalat shubuh 15-20 menit lebih lambat dari ketentuan yg dibuat oleh Kemenag,” tutur Imam.

Setelah beberapa waktu diperdebatkan, lanjut Imam, salat shubuh yang dikeluarkan oleh Kemenag pada posisi piringan bawah matahari -20° di bawah ufuk sementara menurut Tarjih yang ada dalam aplikasi hisab Muhammadiyah -18°. Sementara tuntutan kelompok salafi ada di -16° tidak sepenuhnya diakomodir. “Insya Allah opini seperti ini tidak lepas dari pantauan dan diskusi ahli falak,” tambah Imam.

Baca Juga :  Kajian AMM Tanggulangin, Ini yang Dibicarakan.

Terkait, waktu terlarang salat sebenarnya tidak hanya di tengah hari (menjelang dzuhur). Di luar waktu salat pun beresiko tidak sah. Beberapa waktu larangan salat itu antara lain, ketika matahari persis terbit, ketika matahari persis diatas kepala (Mepet dengan masuknya waktu dzuhur) dan ketika matahari persis tenggelam (Mepet dengan masuknya waktu maghrib).

Kendati demikian jadwal yang saat ini ada untuk sementara tetap dapat dipakai. Karena dalam teori hukum fiqih, jelas Imam, ada kaidah ; ‘Hukmul hakim yarfa’ul khilaf’ (keputusan pengadil/pemerintah/hakim sah dijadikan dasar menyelesaikan perselisihan).

“Jadi apakah salat kita sah atau tidak. Untuk sementara ini kita masih menggunakan kaidah fiqih itu. Yaitu keputusan pemerintah. Sembari menunggu validasi ulang terhadap jadwal salat tetap harus dilakukan,” pungkas Imam.han

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of