Diskusi dan silaturahmi caleg dari kalangan kader muda Muhammadiyaj di sela-sela Pra Musyda ke 9 PDPM Sidoarjo.

Fasco.id – Suasana istimewa terasa di tengah-tengah gelaran Pra Musyda ke-9 PDPM Sidoarjo. Hal ini dikarenakan hadirnya empat calog anggota legislatif dari kalangan kader muda Muhammadiyah menyapa aktivis Pemuda Muhammadiyah se Sidoarjo di SD Muhammadiyah 1 Krembung, Sidoarjo, Sabtu (23/2).

Semakin terasa berwarna, karena para caleg yang hadir berasal dari lintas partai politik. Di antaranya Shobikin Amin dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedi Irwansyah dari Partai Demokrat, Jasmuri dan Wawan dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Dalam kesempatan itu, Shobikin mengawali pembicaraan dengan menyampaikan permohonan maaf karena sejak resmi berstatus caleg, dia belum pernah pamitan secara formal kepada kader-kader Pemuda Muhammadiyah di Sidoarjo. Namun, secara personal pihaknya mengaku telah berusaha membangun komunikasi dengan teman-teman pemuda. “Ruang ini menjadi indah karena warna – warni dan melambangkan kegembiraan sebagaimana tempatnya di sekolah ini,” tutur Amin.

Mantan Ketua IMM Sidoarjo ini mengaku, pilihannya terjun di Sidoarjo merupakan pilihan partai politik untuk dia. Dia pun merasa beruntung karena dalam kontestasi pileg ini sekaligus membuatnya dapat bernostalgia dengan Muhammadiyah di Sidoarjo. Amin juga mengaku, pilihannya terjun ke dunia politik karena kehidupan tidak pernah bisa lepas dari politik.

Baca Juga :  Kivlan Zen Sematkan Baret Merah untuk Kokam Perkasa

“Padahal jauh lebih aman ketika kita bekerja saja. Menjadi guru atau berjualan tak peduli urusan politik. Itu relatif akan bebas dari gunjingan, cemoohan bahkan dikafir-kafirkan ketika berbeda,” tutur pria yang juga alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tersebut.

Terkait keberadaan Pemuda Muhammadiyah di Sidoarjo, Amin berpesan agar terus diperkuat di tataran grass root. Jangan sampai kebiasaan menghibur diri sebagai minoritas berkualitas terus dikembangkan. Sebab, hari ini tuntutan itu berbeda, tidak hanya mengejar kualitas tetapi juga kuantitas.
“Ibaratnya SMAM 2 Sidoarjo, apa indikator dikatakan bermutu. Salah satunya adalah kelarena dipercaya banyak masyarakat, siswanya melimpah,” tegas alumni Fisip Universitas Muhammadiyah Sidoarjo tersebut.

Baca Juga :  Shobikin Amin : Kader IMM Harus Bisa Merawat Budaya Kritis

Sementara itu, Caleg Dapil IV DPRD Sidoarjo dadi Partai Demokrat Dedy Irwansyah tak ingin sesumbar terkait statusnya sebagai kader Muhammadiyah. “Saya tidak mau menjustifikasi bahwa saya Muhammadiyah. Karena barang kali ada yang meragukan ke-Muhammadiyaan saya,” sindirnya.

Dedy menegaskan, prinsip perbedaan dalam politik adalah suatu yang lumrah. Namun, pada akhirnya perjuangan harus kembali pulang ke rumah besar Muhammadiyah. “Sebagian mungkin bahkan menganggap politik itu kotor. Kalau seperti itu seterusnya, maka kita akan terus tertinggal dalam mengambil peran-peran strategis,” tegas dia.

Senada dengan Amin, Dedy juga berharap eksistensi Pemuda Muhammadiyah terus diperkuat. Paradigma tentang satu kader sama dengan lima orang non kader tidak boleh dikembangkan terua menerus. Karena hal itu akan membuat Pemuda Muhammadiyah kalah dalam mengambil sikap dan menentukan gerakan. “Secara pemikiran mungkin perbandingan satu dan lima itu masih berlaku. Tapi dalam sikap dan gerakan tidak,” tandasnya.

Baca Juga :  Jokowi Resmikan Universitas Muhammadiyah Lamongan

Gayung bersambut, Caleg DPRD Sidoarjo Dapil III dari PAN, Jasmuri menuturkan, banyak hal dilakukan bersama dan untuk membesarkan Muhammadiyah. Ini juga berlaku dalam prinsip setiap individu kader. Perjuangan ditegakkan bukan untuk membesarkan dirinya sendiri.

“Kita tidak mungkin dianggap besar ketika tidak membesarkan orang lain. Karena itu, maju dalam kontestasi pileg ini bukan karena untuk membesarkan diri sendiri. Melainkan bersama-sama untuk membesarkan Muhammadiyah,” tutur Jasmuri.

Mantan Ketua PDPM Sidoarjo itu menegaskan, di manapun seorang kader harus diperjelas apa yang diperjuangkan. Ketika Muhammadiyah, maka pilihannya tidak lain adalah perjuangan amar ma’ruf nahi munkar. “Maka itulah yang harus kita perjuangkan,” tegas Jasmuri.

Jasmuri mengaku, kader Muhammadiyah harus bisa berdiasporan dengan berbagai lingkungan. Apakah dia berada di amal usaha, berwirausaha atau terjun di jalur politik, tidak ada yang boleh merasa bahwa di tempatnya berada, di situlah yang paling penting.han

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of