Fasco.id

Sejak isu terorisme mendapatkan perhatian publik di tanah air ini, terma radikal cenderung kental dimaknai secara peyoratif.

Radikal terutama diarahkan kepada kelompok-kelompok yang dipersepsikan memiliki faham merusak dan karenanya tidak dikehendaki. Mereka yang radikal digambarkan sebagai pihak yang suka melakukan tindakan kekerasan demi memaksakan keinginannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata radikal pada dasarnya memiliki makna yang positif dan bukan sebaliknya. Radikal berarti “secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip).” Misalnya, perubahan yang radikal dapat diartikan sebagai perubahan yang mendasar dan prinsipil. Sekalipun memang dalam diskursus politik, radikal akrab dideskripsikan sebagai yang “amat keras menuntut perubahan,” semisal untuk digolkannya suatu rancangan undang-undang atau suatu kebijakan tertentu pemerintahan. Meski demikian, makna ‘amat keras’ di sini pun tidak secara an sich berkonotasi negatif. Makna lain dari radikal justru “maju dalam berpikir atau bertindak.” Pergeseran dan penggerusan arti sesungguhnya dari kata radikal ini tentu tak bisa dilepaskan dari intensnya paparan pemberitaan mengenai radikalisme dengan konstruksi pemaknaan yang minor, baik yang bersumber dari lembaga-lembaga formal otoritatif negara maupun media massa populer. Kondisi yang demikian tak ayal menjadikan banyak pihak merasa tidak nyaman jika dituding dan diidentifikasi sebagai radikal. Karena mereka yang disebut sebagai radikal dalam benak persepsi publik bisa berarti mereka adalah kaum intoleran, pendukung terorisme, dan juga doyan kekerasan.

Baca Juga :  Cahaya Basirah dan Cahaya Sirr (Al-Hikam Pasal 7)

Pemaknaan dan penggiringan persepsi minor dengan memakai kata radikal ini tentu kurang sehat. Jauh sebelum terorisme menjadi narasi berwatak monster yang memanfaatkan konsep radikal sebagai salah satu taringnya untuk mencabik pihak-pihak tertentu dengan stigma buruk, diskursus ilmiah justru menikmati konsep ini sebagai suatu bentuk apresiasi dan prestasi intelektual. Maka dari itu, pemaknaan denotatiflah yang kita jumpai dalam KBBI mengenai terma radikal ini. Lantas, bagaimana lebih tepatnya kita mengkonseptualisasikan sikap dan perilaku negatif dari terorisme yang terlanjur menjadi musuh publik tidak hanya dalam skala nasional tetapi juga global itu?

Dalam diskusi kefilsafatan, radikal, dari asal kata radix, lazim diartikan hingga ke dasar atau sampai ke akar-akarnya. Maksudnya, seseorang yang menghendaki kebenaran seharusnya terdorong untuk mampu berfikir secara radikal dalam memahami suatu permasalahan. Kebenaran hakiki tak cukup dikenali dengan sekedar pemahaman yang sambil lalu, hanya pada kulit atau lapis permukaannya saja. Pemahaman yang benar atas sesuatu meniscayakan upaya yang utuh atau holistik, sistematis, serta radikal. Inilah karakter paling kasat mata dari berfikir kritis secara filsafati. Holistik artinya merengkuh keseluruhan aspek terkait dan relevan dengan isu yang dibaca, sehingga ragam faktor yang mempengaruhi dan mungkin memainkan peran dapat teridentifikasi dan dipertimbangkan. Sistematis berarti mampu menempatkan setiap elemen yang berkontribusi dalam mengkonstruksikan suatu persoalan dapat diletakkan pada tempatnya secara tepat. Adapun radikal adalah sifat bernalar yang menolak untuk menerima suatu klaim kebenaran dengan begitu saja (taken for granted) tanpa terlebih dahulu memahami dasar-dasar argumentasi atau dalil yang melandasinya. Dengan pengertian yang demikian ini, maka menjadi radikal adalah suatu keharusan bagi siapapun yang merindukan kebenaran.

Baca Juga :  Alam Terang karena Cahaya Ilahi

Dalam dikusi keagamaan, radikal dengan pemaknaan filsafati sebagaimana tersebut di atas, sangat lekat dengan konsepsi ijtihad dalam Islam. Ijtihad secara umum dipahami sebagai upaya sangat serius dari seorang intelektual untuk dapat menarik atau menginferensi suatu simpulan, bisa berupa rumusan hukum atau opini teoritik keagamaan tertentu, dari data-data atau dalil-dalil dan nash keagamaan terkait dan relevan yang tersedia. Badzlu ‘l-juhdi li-stinbati ‘l-hukmi min adillatiha al-syar’iyyah. Sedemikian seriusnya usaha ijtihad tersebut sehingga seorang intelektual atau mujtahid wajib memahami persoalan yang dikaji secara holistik, sistematis, dan radikal sebelum mengeluarkan fatwa atau pendapat keagamaannya terkait hal itu. Seorang mujtahid yang radikal dalam bahasa agama bisa digambarkan sebagai seseorang yang memiliki pemahaman atas suatu bidang persoalan secara mendalam, rasikhuna fi ‘l-‘ilm. Istilah Jawa-nya, ilmune wes meneb. Dia menjadi seseorang yang otoritatif karena kapasitas keilmuan atau pemahamannya sudah menyentuh hingga bagian terdalam dari diskursus di bidangnya atau dalam hal terkait, tidak sekedar tahu kulit atau lapis permukaannya saja.

Beranjak dari sini, maka sikap dan perilaku negatif yang mewujud dalam bentuk tindakan teror dan suka kekerasan serta sikap dan perilaku intoleran, tidak sepatutnya kemudian serta-merta dilabeli sebagai radikal. Terma yang lebih sesuai dalam diskursus filsafat maupun keagamaan adalah ekstrimitas atau ke-ekstriman. Islam mengenal konsep tatarruf atau ghuluw, di mana hal ini memang tegas-tegas dilarang dan dihukumi sebagai haram. La taghlu fi dinikum, janganlah kalian bersikap ekstrim dalam beragama! Ekstrimitas beragama ini bisa mengambil bentuk ifrat, melebih-lebihkan, atau tafrit, mengurang-kurangkan, secara berlebih-lebihan atau melampaui batas. Islam mengajarkan proporsionalitas dan sikap moderat dalam segala hal. Doktrin keagamaan Islam ini tidak hanya sebatas bersikap seimbang (tawazun) dan adil (‘adl) dalam memandang persoalan, tetapi juga harus terartikulasi dalam perbuatan yang tidak partisan (wasatan). Nah, sikap dan perilaku keagamaan (religiusitas) yang proporsional, moderat, seimbang, adil, serta tengahan ini hanya dimungkinkan jika seseorang memiliki kapasitas pemahaman keagamaan (intelektualitas) yang radikal, mendalam, rasikhan fi ‘l-‘im. Intelektualitas dan religiusitas yang demikian inilah yang diharapkan bisa melahirkan praktik keberagamaan di ranah sosial dan publik (humanitas) yang otentik dan sehat. Sebaliknya, praktik keberagamaan yang bersifat merusak atau destruktif sejatinya justru lahir dari pemahaman dan penghayatan keagamaan yang tidak radikal dan karenanya offside, tidak pas, dan membuat pelanggaran, kartu kuning bahkan merah.

Baca Juga :  HATI-HATI DENGAN KETERKENALAN

Akhirnya, menjadi radikal harus difahami tidak berarti pasti menjadi ekstrim. Be wise!

 

 

Penulis
Abu Rahma Al-Jawi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of