Fasco.id – SMAMDA Sidoarjo

Ada yang berbeda di acara SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo Festival (Smamda Fest) tahun ini. Acara yang diselenggarakan Pimpinan Ranting IPM Smamda (30/4) kali ini kedatangan tamu orang Belanda, Dave Japhcoth atau populer dengan nama Cak Dave.

“Hello, my name is Dave Japhcoth. I’m from Melbourne, Australia. Tapi aku yo iso boso Suroboyoan rek!”

Secuplik kalimat tersebut ternyata mengundang decak tawa seluruh siswa yang saat itu berkumpul di Aula K.H AR Fachruddin. Bagaimana tidak, kalimat itu diucapkan oleh Cak Dave. Cowok ini sekilas terlihat seperti‘londo’ alias bule pada umumnya, dengan rambut pirang dan kulit putihnya. Tapi begitu dia ngomong, semua orang dibuat kaget karena tidak ada bedanya dengan cak atau laki-laki asli Surabaya.

Baca Juga :  Soal Cadar, Menristek Siap Berdialog dengan Kemenag

Cak Dave memulai cerita, kenapa ia tertarik dengan bahasa Jawa. Bagi pria yang hobi membuat vlog ini, bahasa jawa itu unik, karena sangat kaya istilah. “Kosakatanya lengkap, Semisal kata ‘jatuh,’ kalau di bahasa jawa masih di bedakan lagi, jatuh dimana dulu, depan apa ke belakang kalau jatuh ke belakang ‘nggeblak,’ kalau jatuh ke depan ‘nyungsep’. Nggak hanya itu, anak-anak hewan pun ada namanya sendiri,” katanya sembari membandingkan bahwa hal ini berbeda dengan bahasa lain.

Baca Juga :  Inovasi Siswa SMAMDA Sidoarjo Pukau Gubernur Jatim

Bagi, youtubers dengan 26 ribu subscriber ini, bahasa bukan cuma alat komunikasi. Tapi juga identitas bangsa yang tidak boleh dilupakan. Dia mengaku khawatir karena semakin banyak orangtua yang ingin anaknya hanya belajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

“Saya kuatir, 10-20 tahun ke depan makin sedikit orang yang pakai bahasa Jawa. Jadi, biar itu enggak terjadi, saya sebanyak mungkin pakai bahasa Jawa di kehidupan sehari-hari,” kata Cak Dave.

Tidak ketinggalan, Cak Dave juga menyoroti kidz zaman now yang semakin hari semakin luntur dalam hal berbahasa jawa dan bertata krama. “Wah apalagi jika dihadapkan pada kidz zaman now, dalam menggunakan bahasa Jawa sudah mulai luntur, tentu ini berdampak pada perilaku mereka kepada orang yang lebih tua,” imbuhnya.

Baca Juga :  Dosen Umsida Rasakan Ramadhan di Eropa

“Jangan malu untuk melestarikan bahasa Jawa, karena bahasa Jawa merupakan budaya bangsa yang harus dijaga, begitu juga saya. Saya juga enggak melupakan bahasa Inggris yang merupakan bahasa ibunya. Saya berusaha untuk tetap melestarikannya dengan berprofesi sebagai guru bahasa Inggris.” Katanya memberi semangat kepada para siswa.

Lapora
Hanafi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of