• Mengenal Jasmuri, Caleg DPRD Sidoarjo Dapil III (1 – bersambung)

Fasco.id – Hidup di tanah rantau, jauh dari kampung kelahiran. Jasmuri, anak muda yang sudah kenyang dengan manis asin kehidupan. Menempuh jalan sebagai wirausahawan sejak di bangku kuliah, hingga kini berikhtiar menempuh jalan politik menuju kursi anggota dewan.

Jauh waktu berlalu, sebelum melekat namanya sebagai calon anggota legislatif. Jasmuri hanyalah seorang tukang dinamo di Sidoarjo. Bukan bermaksud merendahkan profesi tukang dinamo. Ini hanya gambaran, betapa perjuangan hidup itu harus dilalui dengan penuh keyakinan.

“Kalau saya terus-terusan jadi tukang dinamo, saya akan bekerja untuk menghidupi diri saya sendiri. Sementara denga jalan politik, potensi untuk memberikan manfaat bagi banyak orang akan terbuka,” tutur Jasmuri. Karena hanya dengan menjadi bermanfaat, lanjut dia, seseorang baru disebut manusia yang baik. Semangat itu yang dipegang kuat-kuat sepanjang perjuangannya menjadi calon anggota DPRD Sidoarjo dari Dapil 3 Tulangan, Wonoayu, Krembung dan Prambon.

Baca Juga :  Inilah Sikap Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo Hadapi Pilgub Jatim

Tahun 1999 lulus SMKN 1 Nganjuk, Jasmuri mulai mempelajari tentang seluk beluk dinamo. Keterampilan ini yang selanjutnya menjadi modal untuk mencari kerja. Merantaulah dari Nganjuk ke Surabaya menjadi buruh di bengkel dinamo. “Penghasilannya cukup untuk hidup sehari-hari dan mulai mempersiapkan diri untuk mendaftar kuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida),” kata dia.

Hanya 10 bulan saja di Surabaya, Jasmuri akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya. Anak desa, merantau ke kota untuk kuliah. “Setelah 10 bulan itu saya nekat buka bengkel sendiri di Desa Kedungbendo, Tanggulangin, Sidoarjo,” tandasnya.

Lima tahun berselang menjadi tukang dinamo, Jasmuri berhasil memungkasi kuliahnya meraih gelar sarjana komputer dan tetap jadi tukang dinamo. Jasmuri mengaku, saat itu tidak ada terlintas di pikirannya untuk melamar pekerjaan di perusahaan atau perkantoran. Padahal bekal ijazah itu telah ada. Dia tetap menekuni dunia perdinamoan.

Baca Juga :  Pemuda Muhammadiyah Titipkan Tiga Hal untuk Pemimpin Baru Jatim

“Sempat mengajar jadi guru di SMA Muhammadiyah 1 Taman, Sidoarjo. Tapi tahun 2008 keluar, mungkin bukan passion-nya untuk jadi guru dan akhirnya tetap fokus di bengkel,” tutur Jasmuri. Pilihan menjadi guru, lanjut dia, juga karena kebetulan bengkel dinamonya terdampak lumpur Lapindo pada 2006. “Dua tahun ngajar kemudian 2008 kembali jadi tukang bengkel,” kata dia.

Setiap jalan dan liku-liku kehidupan itu dijalani Jasmuri. Bukan tanpa alasan, Jasmuri memang punya prinsip kuat tentang kemandirian ekonomi. Menurutnya, mandiri secara ekonomi itu ditunjukkan dengan menjadi enterpreneurship. “Kalau saya kerja ikut orang lain, otomatis saya akan mengurangi peluang kerja yang bisa didapatkan orang lain. Tapi kalau saya berusaha sendiri, saya justru bisa memberi peluang pekerjaan untuk orang lain,” tandasnya.

Baca Juga :  Menjaga Kultur Demokrasi Khas Jawa Timuran

Satu tahun terlewati, Jasmuri akhirnya masuk ke dunia usaha yang lebih besar. Menjadi peternak sapi dan kambing sekaligus catering untuk olahan daging kambing pada 2009. Langkah Jasmuri semakin terang, hingga pada 2010 dirinya dipilih menjadi Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo. “Orang mungkin lebih mengenal saya sebagai peternak sapi. Tapi sebelum ituu, proses sulit jadi tukang bengkel telah saya lewati. Pengalaman-pengalaman itu menjadi pelajaran penting bagi hidup saya” pungkas Jasmuri.han

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of