Sidoarjo, Fasco.id

Dinamika jelang Muktamar Pemuda Muhammadiyah (PM) semkin terasa di Jatim. Tiga kandidat calon ketua PP PM menunjukkan gagasan dan komitmennya saat memimpin pemuda periode mendatang.

Dr Faisal, salah satu kandidat Ketua PP PM menuturkan gagasannya, dua hal yang penting dilakukan pemuda ialah terkait diaspora kader dan transformasi gerakan keilmuan.

“Gerakan anti korupsi menjadi salah satu transformasi keilmuan yang saat ini kita lakukan. Namun, gerakan itu tidak cukup menjadi lipstik belaka,” tandasnya dalam Dialog Kepemudaan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Minggu (29/7).

Baca Juga :  Aisyiyah Berikan Penghargaan untuk Tokoh Paling Berjasa

Gerakan anti korupsi, tidak sekadar mengawal kasus Novel Baswedan seharian. Lebih dari itu, assesment terhadap APBD, APBN jauh lebih strategis dilakukan.

Sementara kandidat kedua Sunanto menegaskan, pemuda perlu memiliki keberpihakan terhadap kekuasaan. Karena dakwah Muhammadiyah, akan lambat tanpa diimbangi kekuasaan yang berpihak. “Kekuasaan menjadi penting untuk mempercepat dakwah Muhammadiyah,” tutur dia. Karena itu, lanjut Sunanto, kekuasaan tidak harus diberi tetapi harus direbut.

Baca Juga :  PDPM FC Tekuk Korkom FC dengan Skor 4 - 1

Lebih lanjut, Sunanto juga mengangkat seputar sumber daya kader yang harus dioptimalkan. Salah satunya menyuplai amal usaha dengan kader-kader terbaik Muhammadiyah. “Untuk apa membangun kampus baru, biar itu dilakukan Muhammadiyah. Kita yang akan menyuplai dari sumber daya kadernya,” tutur Nanto.

Terakhir, Ahmad Labib menyinggung tiga hal untuk dilakukan pemuda Muhammadiyah. Di antaranya sebagai penyempurna visi Muhammadiyah membangun peradaban. Kedua, menjadi pelopor gerakan ekonomi dan politik. Menurutnya, peradaban tidak akan maju tanpa menguasai dua hal itu. “Keduanya sedang dalam penguasaan oligarki politik dan oligarki ekonomi. Meskipun dalam wajahnya politik adalah demokrasi,” tutur dia.

Baca Juga :  Gali Prestasi Sejak Dini, dengan Kejurda Tapak Suci Sepanjang Championship First 2018

Ketiga, lanjut Labib, pemuda harus menjadi bagian penting dalam birokrasi di Indonesia. Hal ini harus dikuasai dengan kompetensi kader yang baik. “Tanpa kader yang kompeten secara keilmuan dan profesional, jangan harap menguasai birokrasi,” pungkas dia.han

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of