Fasco.id – Umsida

Harapan terwujudnya kesejahteraan kolektif tak lepas dari proses demokrasi yang hadir. Salah satunya ialah melaui momentum politik pada pemilihan umum (Pemilu). Dalam hal ini, kelompok mahasisw diharapkan mampu berpartisipasi aktif serta rasional.

Hal itu menjadi pembahasan utama dalan seminar nasional dan sosialisasi tatap muka Pilgub Jatim di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Sabtu (12/5). Dalam forum bertajuk ‘Pendidikan Politik Mahasiswa: Transformasi Pengetahuan Pemilu Menuju Partisipasi Pemula Rasional’ tersebut, harapan besar akan partisipasi aktif mahasiswa dalam politik menjadi penekanan.

Aktifis Muda Sidoarjo Jasmuri menuturkan, logika pemilu yang harus dipahami  oleh mahasiswa adalah terkait dampak dari kebijakan politik. Setiap kejadian yang terjadi di negeri ini, misalnya kemiskinan, tingginya angka pengangguran, mahalnya harga bahan pangan, serta carut marutnya pendidikan tidak lain karena kebijakan politik yang tidak memihak kepentingan masyarakat. Ketimpangan tersebut dikuatkan dengan sikap apatis, acuh tak acuh, bahkan cenderung merasa buta terhadap politik. “Bukan hanya masyarakat kecil. Mahasiswa pun sebagian masih merasa asing dan apatis dengan politik,” tegas Jasmuri.

Baca Juga :  Ini Yang Dilakukan Sejumlah Anggota MPR RI di Hongaria

Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Sidoarjo itu pun menegaskan, proses pemilu merupakan pintu awal bagi kemakmuran atau kesengsaraan terhadap suatu wilayah atau masyarakat. “Karena kita harus rasional menghadapi proses demokrasi yang ada. Berpartisipasi secara aktif dan melihat dengan rasional calon pemimpin yang akan dipilih,” tandasnya.

Jasmuri yang sehari-hari berwirausaha di bidang peternakan ini mengaku, jika mahasiswa dan kebanyakan masyarakat masih merem terhadap momentum politik, maka jangan berharap terjadi perbaikan dalam stabilitas ekonomi, kesejahteraan dan berbagai sektor lain yang menjadi kebutuhan rakyat. “Jangan diam. Lakukan semampu apa yang bisa kita lakukan. Dalam momentum politik ini, mahasiswa punya peran yang sangat besar,” tegas Jasmuri.

Baca Juga :  Tiga Karakter Masyarakat Jatim karena Digitalisasi

Dekan FISIP Umsida Dr Totok Wahyu Abadi dalam sambutannya berharap para mahasiswa dapat memaksimalkan hak pilihnya di momentum pesta demokrasi ini. Di samping itu, mahasiswa juga sudah harus mampu melihat sosok calon secara utuh. Maksudnya adalah tidak melulu kepada istilah like and dislike¸ tetapi lebih bagaimana platform gerakannya, visi misi, latar belakang, dan lain sebagainya. “Sikap apatis terhadap persoalan bangsa harus dihilangkan. Karena jika ini yang terjadi kepada para mahasiswa, maka konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur  hanya jadi bingkai yang sifatnya ilusi belaka,” tandasnya.

Sementara itu, Komisioner KPUD Sidoarjo Abdilah Adi menjelaskan, sistem demokrasi hari ini sudah menjadi konsensus nasional yang harus dipatuhi oleh warga negara Indonesia. Pihaknya juga menjelaskan bahwa hak konstitusi linier dengan hak pilih dari warga negara Indonesia. Sehingga nantinya diharapkan ada peran aktif dari mahasiswa yang kebanyakan adalah pemilih pemula untuk betul-betul memaksimalkan hak pilihnya.

Baca Juga :  Jokowi Resmikan Universitas Muhammadiyah Lamongan

Sekretaris PSKP (Pusat Studi Kebijakan Publik) Umsida Lailul Mursyida menyoroti proses demokrasi dalam pemilu. Pihaknya mengaku, 30% keterwakilan perempuan di negeri ini belum bisa dijalankan secara maksimal. Karena perempuan masih dianggap sebagai the second place, yang wilayahnya hanya berada di private sphere. Dengan kata lain, belum ada ruang yang terbuka lebar bagi perempuan untuk memaksimalkan potensi dan perannya di wilayah publik.

Laporan
Fajar Muharom

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of